Maen Futsal teh Cape

Waktu lagi betew nunggu dosen di jica,  ada temen yang ngajak maen futsal, lawan anak muda, angkatan 2007. Tadinya nggak mau, karena saya sudah lama nggak maen bola. Kalau nggak salah terakhir maen itu waktu tingkat satu atau dua. Tapi karena kebanyakan penyuka bola di angkatan saya udah pada keluar (maksudnya lulus) dari kampus, akhirnya saya katempuhan buat maen, demi menjaga martabat angkatan saya yang pernah juara liga MIPA😛

Maennya ternyata di teater terbuka, lapangan yang nggak ada rumputnya sama sekali. Tembok semua. Jadi kalau jatuh sakitnya luar biasa. Karena sampai menjelang pertandingan belum ada lagi teman yang datang ke lapangan, dengan sangat terpaksa saya maen juga. Selain saya, yang maen adalah pimen, memble, kibro dan ara (namanya pada keren yah huehue). Sama si kibro saya disuruh jadi bek. Yah saya ikut ajah..

Peluitpun dibunyikan sama om wasit yang saya nggak tahu namanya. Di detik-detik awal main saya bingung, harus ngapain, jadinya lulumpatan teu puguh. Dan… JEDAKKK!! Tiba-tiba ada lawan yang nendang bola tepat di kepala sayah. Karena gengsi, saya tahan aja, pura-pura nggak terjadi apa-apa. Padahal mah, uh.. sakit banget.

Perasaan saya main nggak lebih dari 10 menit, karena keburu ada teman saya datang dan menggantikan pemain yang loyo ini. Tapi, perasaan seperti yang main 2 jam saja. Capeknya bukan main. Beda sama main bulutangkis, walau main sampai 3 jam nonstop nggak langsung capek.

Saya baru sadar, dan tahu, ternyata di futsal nggak ada lemparan ke dalam. Jika ada bola keluar, ternyata langsung ditendang.. Dasar jarang olah raga😛

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s