Guru Kencing Berdiri Murid Kencing Berlari

Ada peribahasa bahasa Indonesia, guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Kalau tidak salah peribahasa ini saya dengar waktu kelas tiga SD. Dari Pak Ajat kalau nggak salah.

Tindakan guru, bagaimanapun bakal ditiru sama muridnya. Setidaknya bakal jadi referensi akan tindakannya. Seperti saya kalau ngajar, kemeja jarang dimasukkan, sebab waktu kuliah beberapa dosen pun jarang memasukkan kemeja ke dalam celananya (Atau ini hanya apologi saya saja?)

Nah.. waktu selasa kemarin, ada kejadian cukup menghebohkan di sekolah tempat saya ngajar. Ceritanya ada beberapa murid yang ketahuan merokok di lingkungan sekolah. Gosipnya sih mereka merokok di belakang gedung TK, yang lumayan sepi dan strategis untuk melakukan hal itu. Sialnya, ada salah satu petugas TU yang kebetulan mau membuang sampah, dan melewati belakang gedung. Sontak saja mereka pada ngacir, pada lari. Katanya mereka lari ke arah sungai.

Jam setengah sebelas ada beberapa murid yang belum juga masuk. Maka salah seorang guru mencari mereka. Singkat kata mereka ditemukan. Lalu salah seorang dari meeka diinterogasi, ditanya apakah mereka merokok atau nggak. Dan mereka semua ngaku. Ternyata, banyak juga murid yang suka merokok. Maka seorang demi seorang ditanyai di kantor kepala sekolah.

Salahkah mereka? tentu saja salah. Mereka masih kecil. Apalagi mereka merokok waktu masih pakai seragam. Di sekolah lagi. Mereka pun dihukum. Tapi bukan hukuman fisik (ga jaman brow…). Mereka disuruh menandatangani surat pernyataan tidak akan merokok lagi, terutama ketika berada di lingkungan sekolah dan memakai seragam.

Tapi, apakah hanya mereka saja yang salah? Tentunya nggak adil kalau hanya mereka saja yang disalahkan. Salah satu yang harus disalahkan adalah gurunya sendiri. Lho kenapa? Terang saja. Mereka, banyak yang merokok. Kalau merokoknya di rumah sih ngak apa-apa. Tapi mereka merokok di SEKOLAH. Lalu apakah salah jika mereka pun ikutan latah merokok karena lihat gurunya merokok? Makanya sebetulnya waktu saya lihat interogasi kemarin rasanya lucu juga. Guru saja boleh merokok, lalu kenapa murid nggak?

Dan ini saya lihat terjadi hampir di semua sekolah yang pernah saya masuki. Juga di kampus. Jadi, buat guru (dan juga dosen, ulama, tukang dai, dll), jangan melulu salahkan mereka, murid-murid sekolah karena mereka merokok. Bukan saya membela perbuatan mereka. Saya setuju mereka dilarang merokok, nggak hanya di sekolah, di manapun. Jangan salahkan mereka kalau mereka menuruti kelakuan orang dewasa, kelakuan guru, dai, juga orang tuanya.

Sia-sia kalau melarang merokok pada mereka kalau gurunya juga sering merokok. Kalau orang tuanya di rumah juga merokok. Kalau ulama yang suka nasehatin mereka juga masih doyan merokok. Kalau iklan produk rokok masih bebas berkeliaran masuk ke segala jenis media. Ke sekolah-sekolah dengan alasan konser musik. Ke stadion-stadion olah raga dengan alasan menyehatkan bangsa. Dan ke kotak tivi setiap hari.

Sekali-sekali jangan salahkan mereka (saja).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s