Anti klimaks

Pagi itu, tiba-tiba saja ada SMS yang mampir ke hape jadul saya. Ternyata dari seorang teman lama, tepatnya kakak tingkat waktu kuliah dulu. Isinya, ngajak nonton film di bioskop. Kaget, gembira, dan sekaligus kecewa. Kenapa?

SMS itu dikirim sekitar jam setengah tujuh. Dia -sebut saja kang W- ngajak nonton film di bioskop BSM jam 11. Saya buka SMS jam 10. Artinya, kalau saya mau nonton film gratisan, saya harus langsung beranjak dari kasur, mandi -kalau sempet-, dan ngebut pakai mio. APa mungkin? sementara jarak antara rumah dengan BSM lumayan jauh, sekitar satu jam kalau sedikit macet. Sial-sialnya satu setengah jam.

Akhirnya, dengan kondisi yang sulit itu, saya putuskan bales SMS dari kang W, isinya mau, tapi baru bangun, jadi terserah kalau mau nunggu ya nggak apa-apa. Kalau nggak, ya jadi bukan rezeki saya. Ya, sejak kerja jadi kalong, saya jadi susah bangun pagi. Waktu pagi bagi saya berarti sekitar jam 10. Paling subuh jam 9. Aneh memang, padahal sebelum jadi kalong pun kalau tidur suka larut malam, tapi masih bisa bangun pagi. Sugesti mungkin.

Untung saja si kang W baik hati. Ia mau menunggu saya sampai jam 11.45. Luamayan, masih ada waktu. Akhirnya, langsung mandi oray dan ngebut dengan motor kesayangan, si mio. Untung hari sudah siang, sehingga jalan Buahbatu sudah nggak terlalu macet. Jadi bisa datang tepat waktu, sekitar setengah 12. Masih ada waktu.

Singkat kata, jadilah saya nonton film itu, film yang dipuji banyak orang. Film garapan miles, Sang Pemimpi, yang ada Ariel peterpannya.

Meski saya bukan kritikus film, Saya rasa memang film itu sangat bagus. Apalagi kalau dibandingkan dengan film-film lokal lain yang kualitasnya mengharukan, yang hanya mengumbar darah dan body seksi. Apalagi kata teman saya yang punya buku Sang Pemimpi, katanya filmnya sangat mirip dengan alur di buku. Saya yang sudah lupa sama cerita buku itu, hanya mengangguk saja (Walaupun ternyata kata teman saya yang lulusan sastra Indonesia, film ini jauh dari alur cerita di buku. katanya hehe).

Saya jadi ingat, ternyata saya belum baca buku terakhir tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata itu. Bukan tak mau, tapi saya nggak punya bukunya. Jangankan buku Maryamah Karpov, buku sebelumnya pun saya nggak punya. Kalau masih ada yang bisa dipinjam kenapa harus beli? haha..

Untunglah paman saya kolektor buku, dari buku politik sampai budaya. Dari novel sunda sampai cerita bahasa Inggris. Ya sudah, saya pinjam saja buku Maryamah dari sang paman. Dan dibacalah buku itu.

Menarik? iya. Rame? tentu. Siapa sih yang nggak terpikat sama gaya bahasa pak Andrea. Apalagi tiga buku sebelumnya, saya akui sangat menarik, terutama yang sang Pemimpi dan Edensor. Jadi ingin kuliah di eropa hehe…

Tapi, entah saya yang bego karena bukan kritikus sastra atau memang tidak memahami novel itu, sampai lebih dari setengah buku saya belum bisa menemukan hubungan antara judul novel dengan cerita yang ditulis. Tidak seperti ketiga buku lainnya, yang saya pikir sudah mencerminkan isi dari buku. Seperti anti klimaks.

Bahkan, saya sempat bingung, siapa Maryamah Karpov? Apakah nama asli Ibu Maryamah? Saya pikir awalnya bu Maryamah adalah pemilik warung kopi tempat si Ikal mangkal ketika mau buat kapal. Ternyata -kalau tidak salah- bukan. Warung itu milik seseorang.

Bahkan, saya hitung, hanya satu kali kata Karpov tertulis dalam cerita. Hanya ketika ada yang catur saja. Ya mungkin ada beberapa lagi, tapi tak banyak. Akhirnya, sampai cerita berakhir, saya masih bingung, ada apa gerangan hubungan antara judul dan isi? Apa memang nggak perlu berhubungan? Entahlah..

Tapi yang jelas, buku ini memang layak dibaca. Banyak semangat optimisme di dalamnya, meski saya pikir terlalu berlebihan (hebat sekali seorang Ikal bisa buat kapal bagus dan besar hanya dalam waktu satu tahun). Ya namanya juga cerita. Dan saya ingin membaca ulang lagi keseluruhan buku. Dari Laskar Pelangi. Dan semoga bisa sepereti ikal: kuliah di eropa, yang katanya pusat ilmu pengetahuan. Semoga saja sang paman mau meminjamkan bukunya lagi hehe.

One thought on “Anti klimaks

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s