Selamat Hari Raya Makan-makan!

AKHIRNYA Lebaran datang juga ya gaes. Lebaran yang ditunggu setelah sebulan berpuasa. Lebaran yang tahun ini tak terlalu riweuh seperti lebaran tahun lalu yang geger itu.

Seperti tahun lalu, lebaran tahun ini saya kembali kebagian menjadi amilin. Sebagai pengantar beras ke fakir miskin yang berhak. Cuma tahun ini saya nggak lagi ikutan riweuh di bagian admnistrasi, jadi nggak ikutan ngetik daftar muzakki yang jumlahnya banyak itu.

Nah, menurut para ulama, membagikan zakat fitrah itu afdalnya (atau seharusnya?) dilakukan setelah salat subuh sebelum salat Id. Artinya, kami para amilin hanya punya waktu sekitar 2 jam untuk membagikan sekitar 281 bungkus beras berukuran 4 liter kepada setiap penerima. Jadi bagi yang membagikan zakat sebelum Syawal atau sesudah salat Id, katanya itu sudah nggak masuk hitungan zakat hehe..

Untunglah sejak beberapa tahun terakhir saya selalu kebagian membagikan zakat di daerah sendiri, nggak jauh dari rumah. Jadi kerjanya cepat, nggak sampai satu jam 21 kantong beras sudah disebar dengan sukses oleh lima pemuda tampan.

Beres jadi amilin kemudian mandi dan pakai baju (baru!), kami berangkat ke lapang futsal dekat rumah untuk salat Id. Tahun ini, ustadz Danis kembali jadi imam dan khotib, dengan tema tentang orang-orang munafik dalam surat At-Taubah (lupa ayat berapa).

Mari kita salat Id. Taqobalallahu minna wa minkum.

Foto kiriman hahn (@hahnsaja) pada Jul 5, 2016 pada 4:25 PDT

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Beres salat dan salam-salaman di lapang, saatnya merayakan hari Idul fitri alias hari raya makan-makan!

***

Lebaran tahun ini menjadi lebaran pertama kami tanpa nenek, yang biasa kami panggil emak. Tahun lalu, emak masih ada meski sudah sakit-sakitan, dan kami anak-cucunya selalu berkumpul di rumahnya setiap sudah salat id.

Berkumpul untuk silaturahmi, bermaaf-maafan, dan terutama makan-makan. Juga nggak lupa berbagi angpau untuk para keponakan dan sepupu yang masih bocah.

Tapi nggak ada yang berubah dengan tradisi keluarga bani Sonjaya. Meski tanpa emak, kami tetap berkumpul di rumah emak -yang kini sudah dibeli sama paman. Rumah yang bersebelahan dengan rumahnya bibi yang selalu menjadi tempat berkumpul setiap Lebaran tiba.

Selamat Idulfitri. Hari raya makan-makan. Dan hari raya berbagi angpau.

Foto kiriman hahn (@hahnsaja) pada Jul 5, 2016 pada 6:40 PDT

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Suasana tetap ramai dengan semakin banyaknya bocah yang minta angpau. Suasana tetap meriah ketika makan ketupat bersama. Tetap meriah ketika rame-rame berkeliling ke rumah saudara dan tetangga untuk bersilaturahmi sambil mencicipi penganan khas Lebaran kalau ingin. Juga foto-foto kalau nggak lupa.

Lebaran di kampung memang harus selalu ramai dan meriah. Apalagi saat Lebaran, keluarga yang jauh biasanya mudik. Itu pun nggak banyak, karena sebagian besar keluarga -terutama anak-anak emak- memang tinggal berdekatan. Anak emak yang tinggalnya jauh hanya satu, dan itu pun tahun ini nggak mudik. Tapi tetap ramai dan meriah. Dan kenyang oleh opor ayam yang selalu menggoda.

Foto kiriman hahn (@hahnsaja) pada Jul 5, 2016 pada 8:34 PDT

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Jadi, Lebaran tahun ini kamu mudik ke mana, gaes?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s